Lihat juga
Amerika Serikat telah hidup dalam semacam surga ekonomi selama setahun penuh. Penduduknya menjadi lebih kaya bukan dari hari ke hari, melainkan dari jam ke jam; sebuah revolusi teknologi dan industri sedang berlangsung di negara itu yang akan menjadikannya hegemon global, dan harga-harga, bertentangan dengan semua hukum ekonomi, justru turun. Itulah yang diyakini Donald Trump dan yang secara rutin ia sampaikan dari mimbar. Pernyataan-pernyataan ini begitu tidak masuk akal sehingga para pembaca saya bahkan tidak perlu menelaah berbagai survei sosiologis yang dilakukan dengan frekuensi mengkhawatirkan di kalangan warga Amerika atau mendalami analisis statistik ekonomi AS. Bukti sebaliknya sudah terpampang jelas.
Tahun lalu, protes terhadap Donald Trump, khususnya terhadap kebijakan perdagangannya dan kebijakan imigrasinya, berulang kali terjadi di seluruh Amerika. Bisakah Anda mengingat adanya protes terhadap Joe Biden? Fakta-fakta ini saja sudah menunjukkan bahwa rakyat Amerika sangat tidak puas dengan kebijakan Trump. Tentu saja, di negara mana pun akan selalu ada kelompok orang yang diuntungkan oleh kebijakan pemerintah. Begitu pula di Amerika. Para ekonom menyatakan bahwa Partai Republik secara historis kurang memperhatikan kelas pekerja dan para petani, dan lebih memusatkan perhatian pada kelas menengah dan atas. Singkatnya, Partai Republik terutama melindungi kepentingan warga Amerika yang kaya.
Menurut survei yang dilakukan pada bulan Januari, sekitar 60% warga Amerika tidak menyetujui perang dagang Trump dengan seluruh dunia. Coba bayangkan: kalau setiap warga Amerika mengalami peningkatan pendapatan dan kekayaan berkat kebijakan perdagangan baru ini, adakah yang akan merasa tidak puas? Justru sebaliknya. Setelah Mahkamah Agung AS memutuskan untuk membatalkan tarif global Trump dan menyatakannya ilegal, terungkap bahwa pemerintah AS berutang sekitar $150 miliar dalam bentuk pengembalian tarif yang telah dipungut. Para ekonom memperkirakan bahwa perang dagang Trump telah memakan biaya sekitar $1.300 bagi setiap rumah tangga Amerika.
Saya sudah berulang kali menegaskan dua hal. Pertama, semua tarif perdagangan tidak dibayar oleh negara yang menjadi sasarannya, melainkan oleh masyarakat Amerika sendiri, karena harga barang impor naik bagi mereka. Kedua, "Satu Undang-Undang Besar yang Indah" ala Trump dengan tujuan menurunkan pajak tidak lebih dari sekadar populisme. Dengan satu tangan, Trump menurunkan pajak, dan dengan tangan lain, ia memungut pajak yang sama, yang kali ini disebut tarif, tetapi dalam jumlah yang lebih besar. Inilah bisnis ala Amerika dalam segala kemegahannya.
Berdasarkan analisis saya terhadap EUR/USD, saya menyimpulkan bahwa instrumen ini terus membentuk segmen tren naik. Kebijakan Donald Trump dan kebijakan moneter Federal Reserve tetap menjadi faktor penting yang berkontribusi terhadap pelemahan jangka panjang mata uang Amerika. Target untuk segmen tren saat ini dapat meluas hingga ke angka 25. Saat ini, saya menilai instrumen ini masih berada dalam kerangka wave global 5, sehingga saya memperkirakan kenaikan kuotasi pada paruh pertama 2026. Struktur korektif a-b-c dapat berakhir kapan saja karena bentuknya sudah cukup meyakinkan. Menurut saya, sekarang sudah saatnya mencari area dan level untuk pembelian baru dengan target di sekitar 1,2195 dan 1,2367, yang sesuai dengan 161,8% dan 200,0% pada Fibonacci.
Analisis wave untuk instrumen GBP/USD tampak cukup jelas. Struktur lima wave naik telah selesai terbentuk, tetapi wave global 5 dapat mengambil bentuk yang jauh lebih memanjang. Saya menilai bahwa pembentukan rangkaian wave korektif mungkin akan segera berakhir, setelah itu tren naik akan berlanjut. Oleh karena itu, untuk saat ini saya dapat menyarankan untuk mencari peluang pembelian baru dengan target yang ditempatkan di atas angka 39. Menurut saya, di bawah Donald Trump, pound Inggris memiliki peluang yang cukup besar untuk menguat hingga $1,45–$1,50.